informasi ayam pedaging
AYAM PEDAGING (Ayam Boiler)
Ayam broiler atau yang disebut juga ayam ras pedaging (broiler) adalah jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam[1]. Ayam broiler yang merupakan hasil perkawinan silang dan sistem berkelanjutan sehingga mutu genetiknya bisa dikatakan baik. Mutu genetik yang baik akan muncul secara maksimal apabila ayam tersebut diberi faktor lingkungan yang mendukung, misalnya pakan yang berkualitas tinggi, sistem perkandangan yang baik, serta perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Ayam broiler merupakan ternak yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak lain, kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu yang relatif cepat dan singkat atau sekitar 4 - 5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan atau dikonsumsi. Keunggulan ayam broiler antara lain pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Perkembangan yang pesat dari ayam ras pedaging ini juga merupakan upaya penanganan untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam. Perkembangan tersebut didukung oleh semakin kuatnya industri hilir seperti perusahaan pembibitan (Breeding Farm) yang memproduksi berbagai jenis strain.
Ayam broiler di Indonesia
Ayam broiler pertama kali di budidayakan di Indonesia pada tahun 1950-an. Namun mulai populer sejak tahun 1980-an. Sebelumnya, kebutuhan daging ayam di Indonesia dipenuhi dengan ayam buras seperti ayam kampung. Namun budidaya ayam kampung tidak bisa memenuhi permintaan daging ayam karena produksinya lumayan lama, baru bisa dipanen setelah berumur 8 bulan. Meski saat ini ada juga jenis ayam kampung yang bisa dipanen pada umur 2,5 bulan.
Pertumbuhan yang lambat membuat usaha budidaya ayam kampung tidak ekonomis. Di sisi lain, konsumen belum bisa menerima tekstur dan rasa daging ayam broiler. Sejak tahun 1981, pemerintah gencar mempromosikan ayam broiler. Langkah ini diambil untuk mengejar kecukupan kebutuhan protein masyarakat. Dimana daging dari ruminansia mulai langka dan harganya mahal. Sedangkan pertumbuhan ayam kampung sangat lambat. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai bisa menerima daging ayam broiler karena harganya yang relatif lebih murah.
Kini budidaya ayam broiler banyak dilakukan dengan skema bisnis kemitraan. Dimana industri besar menyediakan mulai dari bibit, pakan, obat-obatan, terkadang hingga ke pemasaran. Sedangkan peternak mitra fokus di usaha pembesaran. Skema seperti ini banyak menyulut kontroversi karena posisi peternak sangat lemah dibanding perusahaan.
Jenis strain ayam broiler
Lalu apa saja jenis-jenis stain ayam broiler dan mana yang paling baik dibudidayakan di Indonesia? Perkembangan teknologi penyilangan dan genetika dalam menghasilkan strain ayam broiler sangat dinamis. Ada kalanya pada waktu tertentu satu strain ayam broiler lebih unggul dibanding strain lain, tapi adakalanya lagi strain tersebut mengalami kelemahan.
Dari waktu ke waktu setiap strain mengalami peningkatan kualitas. Jadi, tidak bisa dikatakan jenis strain tertentu lebih unggul dari strain lain. Berikut ini beberapa jenis strain ayam broiler yang banyak dibudidayakan di Indonesia.
Cobb
Strain cobb dikembangkan dan populer di lebih dari 60 negara. Strain ini memiliki fokus pengembangan untuk memperbaiki performa rasio pemberian pakan (Food Convertion Ratio, FCR). Secara genetik, strain ini dikembangkan untuk memiliki pembentukan daging dada. Mudah beradaptasi di lingkungan iklim tropis yang panas.
Ross
Strain Ross dikembangkan untuk memiliki FCR yang efesien, pertumbuhan yang cepat dan daya tahan hidup yang lebih baik. Fokus pengembangan genetik diarahkan untuk memiliki kaki yang kuat sebagai penopang badan yang besar.
Hybro
Strain hybro memiliki fokus pengembangan untuk ketahanan daya hidup. Performanya untuk daerah tropis cukup baik dan memiliki ketahanan terhadap penyakit ascites. Fokus pengembangan genetik pada hasil karkas.

Komentar
Posting Komentar